Minggu, 18 April 2010

DIRECTION OF CURE (DOC)

Helmy Adriansyah, AMR
Klinik Ibu Sina – Therapist Herbalis


Apa yang dimaksud dengan direction of cure (DOC)?

Direction of cure adalah proses yang terjadi pada tubuh kita sebagai reaksi saat mengkonsumsi Herba, biasanya dalam bentuk “ketidaknyamanan”. Dalam istilah lain disebut “Healing Crisis“.


Bagaimana landasan teori terjadinya proses DOC?


Allah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya (QS At Tiin : 4). Salah satu bentuk kesempurnaan yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah sistem Imunitas dan Detoksifikasi yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan sistem tubuh secara keseluruhan (HOMEOSTASIS), sehingga manusia dapat hidup di lingkungan yang penuh kuman dan racun/toksin. Bila kuman/toksin masuk ke dalam tubuh manusia, secara otomatis sistem Imun dan Detoksifikasi langsung bereaksi serta diaktifkan.
Gejala awal yang terjadi adalah peninggian suhu tubuh untuk melebarkan (dilatasi) pembuluh darah agar bahan-bahan yang dipakai melawan kuman/toksin tersedia dengan cukup, termasuk sel darah putih (Leukosit) dan sel lagosit.


Mekanisme lainnya adalah keluarnya lendir dari mukosa, bila jalur masuknya melalui jaringan yang berlendir seperti saluran nafas dengan bersin/pilek-pilek dan diare pada saluran pencernaan akibat gerakan eksklusimekanis usus (Peristaltik) yang bertujuan mengeluarkan materi patogen/penyebab penyakit melalui buang air besar. Ini adalah mekanisme normal tubuh dalam mempertahankan keseimbangannya.


Bila racun berhasil masuk ke dalam tubuh dapat mengakibatkan kerusakan sel-sel tubuh, maka oleh darah dibawa ke hati untuk dinetralkan, proses ini disebut Detoksifikasi. Bila racun tidak kuat maka melalui proses Detoksifikasi fase I dapat dinetralkan sehingga tidak berbahaya bagi sel tubuh, namun bila racunnya kuat, diperlukan proses Detoksifikasi Fase II yang merubah racun menjadi lebih reaktif dan lebih berbahaya bagi sel tubuh, dengan tujuan agar mudah diikat dan dibuang melalui ginjal.


Racun yang tidak terdetoksifikasi akan ditimbun di sel/jaringan tubuh (seperti di kulit/jaringan lemak) dan menjadi salah satu faktor penyebab munculnya penyakit karena bersifat destruktif/merusak.


Proses Detoksifikasi ini sering terhambat kerjanya karena berbagai faktor, seperti paparan toksin yang akut dalam jumlah besar atau paparan kecil tapi kronis (baik dari lingkungan maupun usus yang bermasalah), defisiensi/kekurangan zat gizi terutama antioksidan seperti vitamin (A,C,E), betakaroten, flavonoid, seleninium dan Xantofil.


Ketika kita mengkonsumsi Herba, maka kekurangan nutrisi diperbaiki sehingga proses Detoksifikasi diaktifkan lagi. Toksin yang belum sempat dinetralisir dan tertimbun di sel/jaringan tubuh ‘dibongkar’ dan dikeluarkan melalui jalur ekskresi/pengeluaran racun, seperti kulit, hati, ginjal/kencing dan saluran cerna.


Akibat “pembongkaran“ ini maka seluruh organ dan sistem tubuh menjadi “sibuk“ bekerja, sehingga timbul rasa tidak nyaman seperti demam, pilek/bersin-bersin, diare, pening dan terkadang sakit/pegal-pegal. Kondisi ini hampir minip dengan “sakaw”/withdrawl, gejala putus obat pada pecandu Narkoba, atau perokok yang menghentikan merokok secara tiba-tiba.


Tubuh “kehilangan” zat toksin yang telah ditoleransinya, bahkan dianggap sebagai “kebutuhan” karena peran reseptor yang terbentuk di otak akibat masuknya zat tersebut, padahal zat tersebut adalah racun bagi tubuh, bukanlah nutrisi yang diperlukan.


Bagaimana bentuk reaksinya?


Ketidaknyamanan yang muncul seperti pusing/sakit kepala, kaku/tegang kuduk, kaligata/muncul ruam-ruam gatal, perasaan melayang, sakit yang diderita semakin bertambah parah, mencret-mencret, demam/suhu tubuh meningkat, batuk berdahak, pilek, susah tidur/gelisah, mengantuk/lesu, nyeri sendi/otot, muncul bisul, tenggorokan sakit/suara serak, kotoran/faeces berbau busuk dan berwarna hitam pekat, dll.


Apa yang harus anda lakukan bila muncul reaksi DOC?


Kurangi dosisnya (jangan dihentikan), minum air minimal 2,5 liter/hari, sinergikan dengan herba lain (misal pusing dengan omega 3 kapsul/gel, gatal dengan minyak but-but, demam dengan malac, badan lemah dengan madu).
Konsultasikan dengan Terapis/Konsultan Herbal anda setiap keluhan dan perkembangan yang terjadi untuk mendapatkan saran serta tindakan yang tepat.
Apa beda DOC dengan efek samping?


Walaupun sama-sama menimbulkan rasa tidak nyaman, namun ada perbedaaan antara keduanya yaitu proses DOC mengarah pada konstruksi dan rehabilitasi sel/sistem tubuh, sedangkan proses samping mengarah pada destruksi (kerusakan) sel/sistem tubuh.
Bagaimana cara membedakan proses yang sedang terjadi apakah DOC ataukah reaksi alergi?


Reaksi DOC hiasanya berlangsung sekitar 3 – 14 hari yang diikuti turunnya kualitas ketidaknyamanan (berangsur membaik) serta peningkatan kualitas kesehatan secara umum.
Reaksi alergi berlangsung kontinyu (tetap dan terus terjadi) tanpa proses penurunan kualitas ketidaknyamanan walaupun telah dikurangi dosisnya serta diikuti penurunan kualitas kesehatan secara umum.
Bila yang dialami adalah reaksi alergi konsumsi Herba harus dihentikan dan digantikan dengan Herba lain yang khasiatnya sama.***
Wallohu a’lam bishowab


SEMOGA ALLAH BERKENAN MEMBERI KESEMBUHAN DAN KESEHATAN


” Berilah saya demam dan saya akan merawat setiap penyakit “
HIPPOCRATES


” Beri saya Healing Crisis dan saya akan merawat setiap penyakit “
HENDRY LINDLAHR


” Perawatan alami, tetapi kita harus memberi kesempatan (tubuh memulihkan kesehatannya) “
Dr. BERNARD JENSEN


” Kami tidak dapat menguasai penyakit, tapi kami dapat mengendalikannya melalui pertahanan alami dengan mengatur cara makan, minum, berpikir dan menjalani hidup sehat “
Dr. BERNARD JENSEN


” Tubuh kita mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk menyembuhkan dirinya sendiri, jika diberikan kesempatan “
JOSEPH PIZZORNO, ND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...